Informasi dasar Sapporo

Penduduk Kota yang ditetapkan berdasarkan peraturan pemerintah di paling utara Jepang. Jumlah penduduk ke-5 terbanyak di Jepang.(Per 1 Januari 2018) Luas Seluas kurang dari dua kali luas total 23 distrik khusus Tokyo, atau hampir seluas Hong Kong. Iklim Salju menyelimuti tanah selama 132,4 hari dalam setahun. Kelembapan udara rendah dan terasa menyegarkan pada musim panas. Salju...

Penduduk

Kota yang ditetapkan berdasarkan peraturan pemerintah di paling utara Jepang. Jumlah penduduk ke-5 terbanyak di Jepang.
(Per 1 Januari 2018)

Luas

Seluas kurang dari dua kali luas total 23 distrik khusus Tokyo, atau hampir seluas Hong Kong.

Iklim

Salju menyelimuti tanah selama 132,4 hari dalam setahun. Kelembapan udara rendah dan terasa menyegarkan pada musim panas.

Salju pertama turun pada akhir bulan Oktober, dan menyelimuti kota pada bulan Desember. Meskipun salju sering turun deras dan rata-rata tumpukan salju tahunan mencapai sekitar 600 cm, langkah-langkah penanganan salju yang efektif membuat hal itu tidak berpengaruh sekali terhadap aktivitas keseharian. Tidak banyak daerah dengan curahan salju sebanyak itu di dunia, untuk ukuran kota besar yang dihuni oleh lebih dari 1,9 juta jiwa. Musim panas di Sapporo tidak disertai musim hujan dan hanya disertai sedikit pengaruh topan. Sumber air tersedia melimpah berkat salju yang tersisa di pegunungan hingga musim panas berguna sebagai penyimpan cadangan air. Pada bulan Juni-Agustus, suhu udara rata-rata lebih dari 20°C, namun dengan kelembapan udara rendah, udara terasa nyaman dan sejuk pada pagi dan petang hari.

*Sumber: Data rata-rata tahun 1981-2010, Sapporo Otenki Net.

Flora dan fauna Sapporo

Kota kembar Sapporo

Sejarah Sapporo

Ada berbagai teori tentang asal-usul nama Sapporo. Teori yang terkenal mengatakan bahwa nama tersebut berasal dari bahasa Ainu ‘Sap-Poro’ (kering-luas). Namun, teori lain mengungkapkan bahwa nama tersebut berasal dari kata ‘Sari-Poro-Pe’ (rawa-luas-sungai) yang menggambarkan lembah hilir Sungai Toyohira. Hingga akhir era Edo (1603-1868), Sapporo adalah sebuah tempat berdagang dengan suku Ainu.

Pada tahun 1869, namanya diubah menjadi Hokkaido, dan Komisi Pembangunan Hokkaido dikirim untuk mulai membangun kantor pusat pemerintahan di Sapporo. Yoshitake Shima yang dianggap sebagai bapak perintis Hokkaido, dikisahkan pernah berdiri di perbukitan Maruyama untuk merencanakan pembangunan kota. Dirancang dan dibangun dengan meniru kota-kota lain seperti Kyoto, Sapporo pun kini dikenal dengan jalinan jalannya yang seperti garis-garis fungsional.

Setelah Tondenhei (tentara pembangun dan penjaga Hokkaido) bermukim, Sapporo pun menjadi sentra produksi kentang dan bawang bombai. Dengan pembangunan kereta serta perkembangan industri bir, tepung terigu, serta kertas, Sapporo tumbuh menjadi pusat politik dan ekonomi Hokkaido. Pada tahun 1970, penduduk Sapporo melampaui 1 juta jiwa. Pada tahun 1972, Sapporo diputuskan menjadi kota yang ditetapkan berdasarkan peraturan pemerintah di paling utara Jepang, dan menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin Sapporo. Kini, Sapporo menjadi kota wisata yang menarik perhatian wisatawan mancanegara dengan berbagai atraksi dan ajang seperti Festival Salju Sapporo yang dimulai sejak 1950, Festival Soran Yosakoi yang diselenggarakan sejak 1992, dan Festival Seni Internasional Sapporo (SIAF) 2014.